Senin, 09 Mei 2016

Keluh akan lelah

Assalamualaikum sahabat readers semua,  alhamdulillah diberi sedikit kesempatan oleh Allah untuk sedikit menulis. 
Kebetulan jadwal sangat padat dan menguras tenaga dan pikiran.
Minggu ini adalah pekan Ujian Nasional tingkat SMP/MTs/SMPLB seluruh Indonesia. Saya merupakan salah satu orang yang diamanahi menjadi sekretaris panita penyelenggara UN tingkat satuan pendidikan.
Minggu ini selain pekan ujian nasional juga ada ujian lisan pondok pesantren an-najah,  dan saya menjadi salah satu penguji Bahasa Inggris.
Alhamdulillah,  jasmani manusia memang penuh kelemahan, rasa lelah tak dapat diingkar, namun semangat tetap tertahan karena besar kesyukuran kepada Allah.

Sabtu, 23 April 2016

Kesabaran adikku

Alhamdulillah masih diberi nikmat untuk menggoreskan untaian hikmah, berbagi kebaikan tertatih menuju jalan ridla-Allah,  inshaallah.
Setiap orang hidup pasti mempunyai permasalahan,  selalu dihadapkan dengan berbagai ujian kehidupan,  sampai nanti penghujung napas kita. 

Begitupun dengan adik ke-enam-ku, ia bagai malaikat kecil,  yang selalu mengajarkan bahwa usia bukan penghalang untuk selalu bersabar. 

Sudah hampir empat tahun ia menahan sakit,  menelan berbagai pahit obat,  berjuang melawan rasa putus asa.

Syndrom Stephen Johnson yang merupakan ujian Allah baginya di usia yang belia kini sedikit demi sedikit merenggut nikmat penglihatannya,  mengaburkan masa depannya. Dia kelas enam saat ini,  tahun depan rencana akan masuk ke pondok pesantren,  semoga penglihatannya kembali normal nantinya. 

Saat ini aku sempat berpikir kemungkinan terburuk,  aku membayangkan mataku gelap,  duniaku gelap alangkah sedihnya diriku,  dan semoga tak terjadi pada adikku Mufidah. 

Ia anak yang sangat pandai,  ingatannya tajam, mungkin itu kelebihan sebagai ganti ia tak bisa membaca tulisan.  Sebelumnya ia pernah melahap semua buku di perpustakaan sekolahnya,  ia gemar membaca dan bercerita tentang apa yang dibacanya.  Matanya begitu indah bulat dan bercahaya. Keadaan yang berbalik 180 derajat sekarang.

Yaa Allah,  mudahkanlah ia melalui semuanya,  bahagiaakan ia. Jika aku diberi kesempatan untuk membangun sekolah aku ingin memfasilitasi anak-anak yang mengalami nasib seperti adikku. 

Yaa Allah, sembuhkanlah adikku,  sembuhkanlah penglihatannya seperti engkau menyembuhkan penglihatan nabi-Mu Ya'qub as. 

Wahai dzat Yang Maha Pemurah, hanya Engkau tempat kami mengadukan segala lara,  sesak kesedihan tiada tara ini. 

Sungguh adikku seorang anak yang shalihah selalu taat, sembuhkanlah dia yaa Allah. 

Kamis, 14 April 2016

Amaliyatut Tadris

Alhamdulillah ada sedikit kesempatan menulis lagi, rasanya sudah lama sekali tak menorehkan kata di blog ini.

Hari ini sedang berlangsung Amaliyatut Tadris di Pondok Modern An-Najah Puteri Cindai Alus,  amaliyah tadris, begitu kita menyebutnya adalah salah satu dari beberapa rentetan ujian yang diprogramkan untuk kelas akhir KMI, setiap santri yang duduk di kelas akhir harus melewati ujian ini dengan baik,  yaitu ujian praktek mengajar adik-adik kelas mereka sendiri. 

Dalam amaliyah ini,  seorang santri yg diuji memiliki kelompoknya sendiri dan dipimpin oleh seorang ustad.

Dalam prosesnya masing-masing santri yang mengajar akan diperhatikan oleh satu kelompoknya  untuk menulis kesalahan apa saja yang dilakukannya saat mengajar atau kita sebut dengan istilah "kitabatun naqdi" menulis kritik.

Kritikan tersebut berguna untuk menentukan kelulusannya dalam ujian ini. Teringat dulu ketika saya sedang menjalani ujian amaliyah, saya diamanahi menjadi kelinci percobaan, menjadi seseorang yg melaksanakan amaliyah tadris perdana sebelum teman-teman saya.  Rasanya campur aduk jantung berdegup lebih kencang,  karena bukan hanya disaksikan oleh satu kelompok saja, namun juga seluruh ustad-ustadzah juga seluruh kelas akhir.

Namun alhamdulillah dengan pertolongan petunjuk Allah aku melewatinya dengan hasil yang cukup memuaskan sesuai dengan apa yg telah diusahakan meskipun belum bisa dianggap sempurna. 

Semua itu berkat bimbingan ustadz dan ustadzah. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh asatidz di pondok tercinta saya Ta'mirul Islam,  segala yang telah diajarkan adalah pendidikan yg sangat berharga hingga kini.  Semoga antum semua selalu dalam lindungan Allah selalu dianugerahi keikhlasan dan kesabaran serta keberkahan oleh Allah.  Aamiin. Salam ta'dhim untuk antum semua :)

ربنا أعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

Rabu, 16 Maret 2016

Alangkah ruginya aku...

Seaungguhnya menuntut ilmu merupakan amalan taqarrub kepada Allah yang paling utama,  yang akan mendelatkan seorang hamba kepada Rabbnya.  Ia termasuk bentuk ketaatan yang paling utama yang akan mengangkat kedudukan seorang muslim serta meninggikan posisinya di sisi Allah SWT.  Telah banyak ayat yang menyampaikan perintah dalam mencari ilmu,  belajar,  berpikir dan merenung. Semua itu agar kita terhindar dari kebodohan dan hawa nafsu.

Namun,  kewibawaan ulama di masa sekarang semakin melemah di hadapan manusia seiring dengan melemahnya rasa takut kepada Allah SWT. 

Menuntut ilmu yang merupakan tujuan mulia, sekarang hanya dijadikan sebuah wasilah (sarana) untuk meraih keuntungan duniawi semata,  meraih ijaxah dan gelar akademi demi mendapatkan kedudukan sosial di tengah-tengah manusia,  sebagai upaya mendapatkan pekerjaan yang berkisar pada harta benda. 

Alangkah ruginya saya, menuntut ilmu yang tadinya tujuan mulia di hadapan Allah & penuh berkah, saya korbankan demi memperoleh pekerjaan. 

Yakinlah saat kita menuntut ilmu dengan ikhlas dan sungguh-sungguh memperhatikan etika yang benar maka Allah telah menyediakan banyak sekali keberkahan yang tak pernah terduga sebelumnya.

Ijazah,  Kedudukan,  pekerjaan, dan segala yang bersifat duniawi akan mengikuti nantinya tanpa kita duga sebelumnya Allah telah menyiapkannya sebagai bonus keikhlasan kita dalam menuntut ilmu meninggikan kalimat-kalimat-Nya.  Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah huwallahu akbar.  Yakinlah janji Allah adalah janji yang pasti tak akan diingkari. 

Maka mulailah segalanya dengan niat yang lurus hanya untuk Allah, sehingga kita tak tergolong orang yang merugi.  Insya Allah,  Allahummahdina shiraatakal mustaqiim... 

Salah satu alasanku...

Saat saya lulus kuliah,  sama sekali tak terbayang tentang pekerjaan apa yang akan aku jalani nanti,  hanya ada satu dalam kepalaku saat itu,  dan dikabulkan oleh Allah sampai saat ini, yaitu "mengabdi" karena saya mengganggap suatu kewajiban  yang harus saya penuhi.

Awalnya saya menganggap mengabdi adalah suatu kewajiban, sehingga seolah-olah menjadi sesuatu yang dilakukan karena terpaksa,  karena tak ada jalan lain.

Waktu demi waktu aku jalani tanpa berpikir dan tanpa banyak pertimbangan tentang lamanya masa pengabdian.  Waktu itu pula yang memberiku banyak pelajaran, bahwa jika aku langsung melanjutkan kuliahku ke jenjang S2 mungkin aku tak berkesempatan mengajarkan ilmu yang telah aku pelajari selama ini.  6 tahun sekolah dasar,  6 tahun di pondok,  4 tahun kuliah, jika dijumlahkan ada 16 tahun lamanya aku belajar. Masa pengabdian adalah ladang mengamalkan ilmu dan ladang pembelajaran juga pendewasaan diriku. 

Kita boleh berhenti sekolah, namun tidak boleh berhenti belajar,  dan sekarang pun aku proses belajar meskipun tidak di bangku kuliah. 

Kebahagiaan sejati adalah memberi,  dengan memberi kita akan dapatkan lebih banyak kenikmatan,  rezeki yang tak hanya materi namun lebih dari itu kita akan mendapatkan tambahan ilmu.

Selasa, 01 Maret 2016

Jangan Malu...

Jangan berprasangka buruk dulu setelah baca judul di atas yaa teman-teman !. Malu adalah komponen penting dalam bangunan akhlak seseorang, malu merupakan sebagian dari iman.  Tanda orang yang masih dianugerahi manisnya iman pasti masih merasakan 'malu'.  Malu kepada Allah & Rasul-Nya ketika berniat buruk menodai fitrah dan agamanya. 

Namun,  malu juga sering ditempatkan tidak pada tempat yang tepat teman-teman. Malu sering melanda diri seseorang ketika hendak melaksanakan kebaikan.  Sesuatu yang tidak ditempatkan pada tempatnya dinamakan dzalim. Dan kedzaliman tidak akan menuai hasil yang diridlai Allah.

Di zaman yang serba gengsi ini malu sering disalah artikan. Kita lihat saja diri kita sendiri.  Sebagai pemuda muslim,  kadang kita malu berdoa mengangkat tangan karena takut dicela.  Sebagai pemuda muslim kita sering lupa mengucap kalimat-kalimat pujian untuk Allah karena takut dibilang Sok alim. 

Ayolah,  sudah saatnya kita melawan rasa malu untuk berbuat kebaikan,  melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang,  meninggalkan rasa takut terhadap manusia. 

Sudah saatnya Islam bangkit melahirkan generasi pemuda emas islam,  layaknya generasi shahabiyah r. hum.

ربنا هبلنا من الصالحين 

Jumat, 26 Februari 2016

Stasiun JERAKAH...

Tetiba aku ingat kenangan manis
Sebuah stasiun kecil yang menyimpan sejuta cerita kebersamaan kami
Stasiun jerakah, tempat asri favorit kami berkumpul sekedar melepas penat tugas kuliah

Stasiun Jerakah, pelatarannya menjadi saksi tawa kami
Pemandangan kereta lewat itu favoritku
Aku tak tahu mengapa, hanya saja aku selalu bahagia melihatnya

Stasiun Jerakah cukup menghibur kami kala masalah melanda
Apapun masalahnya...
Tugas kuliah, Cinta, Cita, Olahraga bersama atau relasi kerja sama...

Ah terlalu indah tempat itu
sejuta cerita tertinggal disana
Stasiun Jerakah apakah masih sama?

Stasiun kecil manis dengan sejuta kenangan


*Sahabat Exactly, I really miss you, semoga Allah berkenan mengumpulkan kita kembali dalam moment yang lebih indah

Pujian dalam Islam Written by Ust Abdullah Hakam Syah, Lc

Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, adalah fenomena pujian. Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam tiga bentuk: pujian yang diucapkan untuk menjilat, pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka, serta pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.
Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi élan positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Padahal Allah Swt. mengingatkan dalam firmanNya:
فلا تُزَكّوا أنفسكم، هو أعلم بمن اتقى.
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan tiga kiat yang sangat menarik untuk diteladani.

Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa: 
اللهم لاتؤاخذني بما يقولون
“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari)
Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.
Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita.
Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:
واغفرلي ما لايعلمون
  “Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)
Dan kiat yang ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa:
واجعلْني خيرا ممّا يظنّون
  “Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

  Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi Saw. dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji. Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi Saw., yaitu di antaranya:
Pertama, Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)
Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.:
اللهم فقّهْه في الدين وعلّمْه التأويل
“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair)
Begitu pula, di saat Nabi Saw.  melihat ketekunan Abu Hurairah ra. dalam
mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. dan menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi Saw. menegurnya:
قطعت عنق صاحبك
  “Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)
Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”
   Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat.. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.
اللهم لاتؤخذنا بما يقولون، واغفرلنا ما لايعلمون، واجعلنا خيرا مما يظنون.

Utadz Abdullah Hakam Syah, Lc

Rabu, 24 Februari 2016

Setelah...

Tulisan ini adalah jawaban untuk banyak pertanyaan yang tertuju kepada saya tentang apa yang kurasakan setelah  saya mengenakan cadar. 

Alhamdulillah bini'matihi tatimmushshalihat,  Alhamdulillah 'ala kulli haal wa fii kulli haal. 
Syukur saya kepada Allah atas kekuatan yang Allah anugerahkan kepada saya sampai saat ini.

Saya merasa begitu bersyukur,  begitu nyaman mengenakannya,  saya nikmati setiap tantangan yang lewat, dan semua ini hanya karena Allah selalu memberi kekuatan untuk bertahan. 

Keyakinan akan semakin mengakar kuat & tumbuh menjulang manakala dipupuk dengan ilmu & kepasrahan kepada Allah.

Banyak sekali manfaat yang kurasakan setelah bercadar,  dan semua kemudahan itu hanya datang dari Allah. Misalnya,  melindungi dari radiasi,  radikal bebas yang berasal dari paparan sinar matahari (cuaca panas membakar kalimantan sangat tidak cocok untuk kulit saya yang notabene orang jawa) bukankah ini suatu bentuk rasa syukur, memelihara anugerah kulit ciptaan Allah?, karena saya tak mau memakai kosmetik yang belum tentu halal & thayyib untuk dipakai. Kalau sudah yakin halal & thayyib pun saya tetap akan mengenakan cadar. Ini tadi kalau harinya panas,  bagaimana jika hari hujan? Pasti ada yang bertanya seperti itu.  Kalau hari hujan tetap saya pakai cadar,  selain karena titik hujan di sini sangat sakit mengenai wajah (ketika berkendaraan) juga karena air hujan bersifat asam tidak baik mengenai kulit kita. 

Bukan berarti niat saya bercadar adalah mempercantik kulit,  memelihara kulit adalah kewajiban, karena ia merupakan anugerah Allah. Kulit cantik karena bercadar adalah bonus hadiah anugerah dari Allah, bukan tujuan utama. Allah yang Maha Tahu apa niat saya bercadar biarlah Allah yang menilai. 

Kaos kaki,  sebelum bercadar saya sudah berniat melatih diri membiasakan diri mengenakan kaos kaki.  Karena kaki merupakan aurat yang wajib ditutup,  sedangkan cadar banyak pendapat menyatakan bahwa hukumnya sunnah. Awalnya ribet,  apalagi jika hari hujan, rasa malas dan takut kotor adalah tantangan utama.  Namun,  seiring saya mengenakannya,  saya merasakan banyak sekali manfaatnya.  Misalnya: kaki saya terlindungi dari sinar matahari,  kaki saya tidak belang-belang cap sandal,  debu,  tanah dan lumpur (saat hari hujan,  karena disini banyak jalan tak beraspal) tidak langsung menempel pada kaki saya, walaupun basah hujan saya tetap memakainya untuk melindungi dari air hujan yang bersifat asam,  jadi untuk menyikapi masalah kaos kaki yang basah, saya harus menyediakan kaos kaki lagi dalam tas saya sebagai ganti. Ribet siih tapi kalau itu saya rasa bermanfaat dan tidak melanggar syariat,  pasti Allah memberi kelapangan hati mengatasi ribet. Begitu teman-teman muslimah shalihah. 

Tentang sosialisasi dengan masyarakat sekitar,  alhamdulillah cadar tidak menghalangi saya untuk tetap membaur dengan masyarakat,  terlepas apa tanggapan mereka terhadap saya,  saya selalu berhunudzon kepada mereka. Karena yang memuliakan dan menghinakan sejatinya bukanlah manusia,  melainkan hanya Allah azza wa jalla.

Nah itu tadi jawaban saya untuk yang penasaran. Semoga bermanfaat bagi teman-teman. Ingat tak ada paksaan dalam beragama,  jadi bukan berarti saya membanggakan cadar, dan memaksakan seseorang untuk percaya dan bercadar. Silakan menilai sendiri, saya hanya berbagi saja. 

رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي و علي والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأدخلني برحمتك من عبادك الصالحين